2 RESULTS
INFO

LOGO NICEBEL

UNSUR LOGO

Warna Merah Putih yang merupakan warna kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai simbol semangat kebangsaan yang melandasi tema agenda NICEBEL

Simbol Lingkaran Panah Triwarna yang merupakan simbol semangat Keberlanjutan yang diusung dalam agenda NICEBEL. Anak Panah Tiga Warna mewakili semboyan Kampus UPN “Veteran” Yogyakarta. Warna Kuning mewakili semboyan “Kreativitas”, Warna Hijau mewakili semboyan “Disiplin” dan Warna Merah mewakili semboyan “Kejuangan”.

Secara keseluruhan, simbol Lingkaran Panah Triwarna menunjukkan semangat untuk menjaga Keberlanjutan Pembangunan Perekonomian dengan nilai-nilai “Kreativitas”, “Kedisiplinan” dan “Kejuangan”

Logo Kampus UPN “Veteran” Yogyakarta, sebuah institusi yang secara terus menerus menjadi institusi pelopor “Bela Negara” dan berpartisipasi aktif dalam mendukung Pembangunan Perekonomian Indonesia

Teks NICEBEL sebagai akronim dari National Conference on Business & Economics dan teks Bela Negara pada rangkaian teks yang mewujudkan semangat Bela Negara sebagai nilai penciri UPN “Veteran” Yogyakarta yang merupakan institusi inisiator agenda tahunan ini.

INFO

NICEBEL 2020

SEMINAR NASIONAL DAN CALL FOR PAPER

EKONOMI DIGITAL: MASA DEPAN PEREKONOMIAN INDONESIA

Ekonomi digital lahir dan berkembang seiring penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang juga semakin mengglobal di dunia. Menurut Dalle (2016) sejarah ekonomi dunia telah melalui empat era dalam hidup manusia yaitu era masyarakat pertanian, era mesin pasca revolusi industri, era perburuan minyak, dan era kapitalisme korporasi multinasional. Empat gelombang ekonomi sebelumnya berkarakter eksklusif dan hanya bisa dijangkau oleh kelompok elite tertentu. Gelombang ekonomi digital hadir dengan topografi yang landai, inklusif, dan membentangkan ekualitas peluang. Karakteristik ini memiliki konsep kompetisi yang menjadi spirit industri yang dengan mudah terangkat oleh para pelaku startup yang mengutamakan kolaborasi dan sinergi. Karena itu pula ekonomi digital merupakan ‘sharing economy’ yang mengangkat banyak usaha kecil dan menengah untuk memasuki bisnis dunia.

Kegiatan seminar ini dilatarbelakangi oleh pesatnya pertumbuhan sektor ekonomi digital, yang akan memiliki peran semakin besar dalam menggerakkan perekonomian Indonesia. Pertumbuhan industri e-commerce  semakin pesat di tengah terjadinya perlambatan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Data analisis Ernst & Young memperlihatkan bahwa pertumbuhan nilai penjualan bisnis online di tanah air setiap tahun meningkat 40 persen. Terdapat sekitar 93,4 juta pengguna internet dan 71 juta pengguna perangkat telepon pintar di Indonesia, yang sangat menunjang perkembangan e-commerce. Para pengguna internet dan telepon pintar tidak hanya menggunakan perangkat tersebut untuk mencari informasi dan chatting, tetapi juga memanfaatkannya untuk e-commerce  terutama bagi kalangan masyarakat di kota-kota besar, yang telah menjadikan internet dan e-commerce sebagai bagian dari gaya hidup mereka. Perilaku konsumtif dari puluhan juta orang kelas menengah di Indonesia menjadi alasan mengapa e-commerce di Indonesia akan terus berkembang pada masa mendatang (https://kominfo.go.id).

Dibalik prospek perkembangan yang bagus, ekonomi digital di Indonesia menghadapi beberapa permasalahan yang dapat menghambat potensi pertumbuhan e-commerce di Indonesia. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, ada enam permasalahan, yaitu pendanaan, perpajakan, perlindungan konsumen, infrastruktur komunikasi, logistik, serta edukasi dan sumber daya manusia. Permasalahan-permasalahan tersebut harus dicarikan solusinya secara bersama-sama antar lembaga terkait agar menghasilkan kebijakan yang komprehensif dan sinkron. Lembaga tersebut tersebut antara lain Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perhubungan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Badan Koordinasi Penanaman Modal, Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia, Kementerian Koperasi dan UKM, Pos Indonesia, ASPERINDO, IdEA, dan lain-lain. (https://kominfo.go.id).

Tidak hanya itu, pemerintah juga merumuskan prinsip-prinsip utama dalam mengembangkan e-commerce lewat aksi afirmatif. Lima prinsip tersebut, antara lain seluruh warga Indonesia memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses serta menjadi pelaku e-commerce, seluruh warga Indonesia memiliki ilmu dan pengetahuan agar dapat memanfaatkan teknologi informasi untuk perekonomian, meminimalisir hilangnya lapangan pekerjaan saat era transisi menuju perekonomian digital, implementasi perangkat hukum dan kebijakan harus mendukung keamanan e-commerce yang mencakup technology neutrality, transparansi dan konsistensi internasional, dan utamanya pelaku bisnis e-commerce lokal terutama pelaku bisnis pemula dan UKM harus mendapatkan perlindungan yang layak serta menjadi prioritas utama.

Indonesia memiliki modal yang besar untuk menjadi negara dengan industri e-commerce terkemuka di masa depan. Selain memiliki sumber daya manusia yang tak kalah bagus, pasar lokal juga menjadi potensi besar untuk pengembangan e-commerce. Pada akhir tahun 2015, nilai bisnis e-commerce tanah air mencapai sekitar USD 18 miliar. Pada tahun 2020, volume bisnis e-commerce di Indonesia diprediksi akan mencapai USD 130 miliar dengan angka pertumbuhan per tahun sekitar 50 persen. (https://kominfo.go.id)

Pemerintah Indonesia ingin menempatkan Indonesia sebagai negara Digital Economy terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020. Pemerintah menargetkan dapat menciptakan 1.000 technopreneurs baru pada tahun 2020 dengan nilai bisnis mencapai USD 10 miliar. Saat ini banyak pelaku bisnis e-commerce pemula baik perdagangan online maupun start-up digital dengan ide-ide segar dan inovatif yang kurang memiliki akses atau pendanaan untuk mengembangkan bisnisnya. Untuk itu, pemerintah akan mendorong tumbuhnya technopreneurs baru, baik dengan menggandeng mentor-mentor technopreneurs terkemuka, data center, technopark, serta memberikan pendanaan. Sedangkan bagi pelaku bisnis UKM diharapkan mampu naik tingkat menjadi pelaku usaha besar, bahkan menggurita hingga internasional.

Dalam rangka membahas perkembangan sektor ekonomi digital, serta potensi tantangan dan dampak yang akan ditimbulkan terhadap dinamika ekonomi nasional, Pemerintah Indonesia telah membuat E-Commerce Roadmap yang resmi dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk melahirkan 1.000 New tech Start-ups. Indonesia berkomitmen untuk menjadi negara terbesar di ASEAN dalam bidang Digital Ekonomi pada 2020 dengan meyakini bahwa kedaulatan cyber dilihat sebagai faktor kunci untuk mendapatkan target tersebut. (http://www.itech.id).

Di dalam mencermati hal tersebut Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran Yogyakarta bekerjasma dengan ISEI Cabang Yogyakarta menyelenggarakan Seminar Nasional dan Call for Papers dengan tema “Ekonomi Digital: Masa Depan Perekonomian Indonesia”